Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

SINEMA KECIL : AKU DAN AKU

Gambar
Masih tentang meditasi kehidupan. Umur 18 tahun. Aku telah menemukan begitu banyak pengalaman hidup. Aku telah mampu mengerti diriku sendiri, lebih baik daripada aku yang sebelumnya, yang justru pandai memahami orang lain. Tapi kupikir kali ini aku betul-betul sudah siap menuju jalan kehidupan yang baru, yang lebih hebat, yang lebih luas. Dan tentu, meditasi kehidupanku masih akan terus mencumbui semesta yang penuh kejutan. Ah, aku belum dewasa, tidak, belum. Aku tahu betul itu. aku tahu betul pikiranku sekarang ini belum cukup umur untuk berlagak “sok tau” tentang hidup. Ya, lagi pula aku masih remaja umur 18 tahun. Angkanya sudah banyak, aku juga sudah cukup tahu banyak, tapi perjuanganku dalam hidup belum banyak. Pengalaman audio-visualku selama ini berlangsung absurd, berantakan, abstrak. Salah satunya, pengalaman yang membawaku berakhir pada pintu sinema! Pintu dimana aku menjadi manusia yang sedikit perfeksionis. Pintu dimana aku lagi-lagi merasakan “I LOVE IT” dan hatiku melu...

SINEMA KECIL : MENGINGAT 2014

Gambar
Fida dan Faza, kelulusan SD Mencari jati diri di dunia adalah meditasi. Siapa sebenarnya diri kita, apa yang akan kita rangkul di dunia ini untuk bisa jadi diri sendiri, dan bagaimana kita akhirnya akan paham pada satu titik akhir tentang apakah “hidup” itu. Hal-hal seperti itu bisa dibilang terlalu berat untuk jadi pemikiran seorang anak umur 13 tahun yang baru saja jebol dari SD dan akan masuk ke kehidupan gaul ABG cabang SMP. Setelah kehidupan SD puas memberiku banyak tantangan mental yang berat, setelah Allah harus menjemput Ibu untuk pulang, setelah aku khatam terpuruk dalam kesedihan, aku memutuskan pergi ke SMP yang jauh...untuk menjauh (haha?) Yang menarik nan unik di tahun pertama di SMP adalah : perubahan sikap dari diriku sendiri yang langsung berubah total 360º! Sebuah pencapaian yang kalau Ibu lihat “aku” sekarang, pasti Ibu langsung menganga tidak percaya (hahaha mungkin!). Karena dari dulu, Ibu cukup gemes lihat aku yang terlalu dan memang sangat sangat pendiam...

SINEMA KECIL : PROLOG

Gambar
Halo! Jadi, hari ini tanggal 30 Maret 2020, hari ke-(berapa ya?) kita lagi karantina diri karna wabah covid-19. Geger gegar dan bergetarnya dunia tapi senangnya bumi karna bisa rehat dari polusi manusia—kita juga perlu dong, lihat positifnya. Dunia jadi sepi euy, ya ga sepi-sepi banget sih, pokoknya beda banget. Tapi sedih, semua rencana-rencana jadi abu-abu, bahkan jadi enggak terlaksana...contohnya UN! UN DIHAPUS GES YA ALLAH, kaget juga sih mana angkatan 2020 ini yang pertama kali enggak melaksanakan UN. DAN INI TANGGAL 30 KAN DIMANA seharusnya aku lagi duduk di depan komputer lab sekolah, meghadapi soal-soal Bahasa Indonesia yang panjang-panjang, kemudian keluar ruangan dengan kepala berasap (ga deng, ngehe). Terus selama karantina ini aku sibuk goleran di kasur, scroll medsos, nonton film, baca buku, ngelamun, dan diselingi (selingan lhoohh hahahha) ngerjain USBN online! Jarak jauh! Ngerjainnya di rumah! Ngeri banget ya, baru kali ini aku ujian bisa sambil nyemilin rempeye...

Sisipan

Gambar
“Aku menyukaimu.” Kalimatmu aku simpan dalam saku. Aku tidak tertarik menatap matamu. Aku sibuk menata semangka dan kelapa muda di sendokku, membawa sedikit air sirop dan sagu menuju lambungku. Aku membiarkanmu kebingungan dalam diam. Mungkin kau sebal aku lebih tertarik pada semangkuk sup buah daripada kalimatmu, mungkin kau melempar canggungmu pada es batu di mangkukmu yang mulai tak padu. “Kau dengar, kan?” tanyamu, dengan suara cemas. Kalimatmu aku simpan dalam saku. Aku tahu kau sedang menatap ujung mataku yang layu, berharap bisa membetulkan tapi tak mampu. “Iya.” ucapku dengan mulut penuh. aku mengunyah manis dan masam di mulut. Yang kugigit sebenarnya bukan mereka, tapi cemas dan canggungmu yang entah kenapa didukung oleh terik mentari yang membuat keringatmu ramai-ramai terjun ikut bersendu. “Bagaimana denganmu?” kau mulai menyentuh sendokmu, mungkin, mencoba mengusir degup jantung para buah yang takut berakhir di tong sampah lalu membusuk, atau menya...

Ode untuk Dialog Bisu

Gambar
Aku yakin ada sesuatu diantara kita. Ruang kelas yakin, ada sesuatu diantara kita. Kejadian penculikan saling pandang dan bisunya kita, ia saksikan. Cuaca bumi panas. Cemas. Rindumu, malu-malu. Aku yakin ada sesuatu diantara kita. Benar-benar sesuatu. Debu-debu yang menempel di laci. Terjaga dalam gelap. Terjaga dalam senyapnya bungkus permen milikmu. Bertumpuk tak ingin dibuang. Bertumpuk ingin jadi saksi bisu. Apa ya, yang akan disapa? Namaku? Jemariku? Bola mataku? Sedang rasamu serius, dan rasaku misterius. Sesuatu diantara kita itu mungkin, gagang pintu kelas yang berkarat. Yang akan berderit keras, agar matamu dan mataku bertemu pada satu titik yang merdu. Agar matamu dan mataku bersisian erat-erat, tanpa ada yang terlepas.

Aku Ini Puisi

Gambar
Bumi, aku ini puisi. Aku ini bahasa-bahasa asing. Aku ini kata-kata yang tak pernah terlintas di kening-kening. Aku ini huruf-huruf yang tak aturan. Tak runtut. Tak padu. Tak jelas. Yang tak punya rumus. Yang susah dipecahkan dan diselesaikan. Bumi, aku ini puisi. Aku terjerat pada sekat-sekat kalimat milik penyair yang miskin hati. Aku menjadi bagian sakit setiap pena yang kehabisan kata. Aku menjadi bagian angin dan angan dalam dunia fantasi. Aku ada. Aku tak ada. Bumi, aku ini puisi. Aku hidup di lingkungan rumit. Aku belajar bernapas lewat kertas. Aku bebas. Tapi tak lepas. Aku berteman dengan bahasa berat. Yang tak pernah bisa ditebak kalbu. Bumi, aku ini puisi. Aku tonggak setiap gagak yang ingin bicara. Aku bertiup dan terhempas lewat rindu dan teman-temannya. Aku melatih tubuh untuk terus mengubur dosa. Aku mengejar lubang kehampaan untuk melabur malam. Aku hidup dan mati dalam tokoh yang berbeda. Aku hidup dan mati dalam suasana maharupa. Bumi, satu lagi,...

Sedikit Cuplikan Si Maestro Manis

Gambar
Hari itu, waktu aku sedang sibuk meniti tangga puisi, waktu aku sedang kabur dari tanggung jawab untuk melupakan seorang manusia. Kamu datang. Tanpa aba-aba ketukan pintu, kamu tiba-tiba menanyakan namaku. Tapi tidak langsung. Kamu nampak penasaran lewat lubang mata. Eh, tapi gertakan drum-mu sampai padaku. Serta hadirmu.  Kenapa, ya? Tapi kupikir-pikir. Kurasa. Ini aku yang baru pertama kali kena sorotan lampu konsermu. Lalu kamu bernyanyi di depanku. Seolah-olah penonton panggung musikmu hanya aku. Lalu aku diam-diam senyum sendiri di saat sepi. Senyum-senyum sambil ikut anggukan tiap pukulan drum-mu itu. Eh, asik banget, lho.  Aku diam-diam juga sedikit penasaran. Dan ingin koreksi diri. Dan ingin koreksi liriknya, ih, tapi aneh juga, kamu ternyata suka Hindia! Dan aku baru sadar kalau aku lupa menulis rumus matematik lain dan justru bisu pada layar gawaiku. Dan hari-hari berikutnya aku isi telingaku dengan musikmu. Biar rasanya aku disorot lampumu. Silau, si...