Sisipan
“Aku menyukaimu.”
Kalimatmu aku simpan dalam saku. Aku tidak tertarik
menatap matamu. Aku sibuk menata semangka dan kelapa muda di sendokku, membawa
sedikit air sirop dan sagu menuju lambungku.
Aku membiarkanmu kebingungan dalam diam. Mungkin kau
sebal aku lebih tertarik pada semangkuk sup buah daripada kalimatmu, mungkin
kau melempar canggungmu pada es batu di mangkukmu yang mulai tak padu.
“Kau dengar, kan?” tanyamu, dengan suara cemas. Kalimatmu
aku simpan dalam saku. Aku tahu kau sedang menatap ujung mataku yang layu,
berharap bisa membetulkan tapi tak mampu.
“Iya.” ucapku dengan mulut penuh. aku mengunyah manis dan
masam di mulut. Yang kugigit sebenarnya bukan mereka, tapi cemas dan canggungmu
yang entah kenapa didukung oleh terik mentari yang membuat keringatmu
ramai-ramai terjun ikut bersendu.
“Bagaimana denganmu?” kau mulai menyentuh sendokmu,
mungkin, mencoba mengusir degup jantung para buah yang takut berakhir di tong
sampah lalu membusuk, atau menyatu di selokan bersama ratusan aroma yang buruk.
Tentu mereka memilih tercacah rapi oleh gigimu.
“Mungkin, aku memang menyukaimu.” kali ini aku menatap
matamu, menghentikan sendok supmu yang sedang sibuk merayu sagu, “tapi aku
lebih ingin menyimpanmu dalam saku.” lanjutku, disambut teguran ibu kantin,
“Sudah mau tutup, neng, maaf.”
Aku tersenyum. Kemudian berdiri, pamit undur diri.
Namun, sebelum aku melangkahkan kaki lebih jauh dari
tempat kita duduk tadi, aku sempat memergokimu tersenyum.
Nampak lega, tapi bingung.

Komentar
Posting Komentar