waktu kita masih seumur anak bulan purnama
siang ini kamu ketahuan baca komik di laci sementara aku menahan malu. gara-gara kamu, komik Miiko nomor 13-ku disita Pak Nur. omelanku mungkin akan terngiang-ngiang di kepalamu seharian. kamu bersumpah akan mengambil kembali komiknya sepulang sekolah, "janji! nanti aku bilang ke Pak Nur, ini salahku, bukan salahmu". kamu bersumpah, padaku, yang malah salah tingkah.
kupikir itu adalah janji yang manis. kutemukan aku berharap kamu akan terus berjanji segala hal padaku. mungkin; berjanji akan membantuku mengerjakan PR matematika, berjanji akan mengalah ketika hanya tersisa satu piscok di kantin, berjanji akan menemaniku sampai aku dijemput ibu, berjanji akan memberi tau game terseru di warnet selain Friv, berjanji akan duduk sebelahan, berjanji akan main denganku selamanya.
kupikir aku memang jatuh tak karuan setelah itu. aku diam diam berharap selamanya tidak ada libur sekolah dan kita selalu sedekat ini. sedekat kita yang selalu benci mapel olahraga, sedekat kita yang selalu jajan tempe mendoan di kantin belakang, sedekat kita yang selalu main game bareng di warnet; "masnya tadi bilang, gak boleh sering main game soalnya nanti jadi goblok" dan kamu mencibir "dia kan dapet duit, ditambah kita gak goblok". sedekat kita yang selalu menyesal karena ikut ekskul drumband, sedekat nomor absen kita, sedekat kita yang selalu ribut nilai siapa yang paling tinggi. aku mensyukuri harapan karena kita masih punya banyak harapan.
"aku lupa bawa LKS bahasa inggris..."
kupikir aku memang menemukan gelak tawa kala melihat raut muka melasmu di balik jendela kelas. aku memang menemukan rasa sukaku karna kamu satu-satunya yang mengerti aku—meski kamu terlalu sering mengejek. aku memang menemukan puluhan alasan kenapa kamu sangat mudah membuatku tersipu. yang kudapat setiap hari bukanlah kupu-kupu yang ada di perut, melainkan gulali sebesar rambut kribomu yang tiba-tiba muncul di hati—manis dan magis, seperti Magic Momo; menggelikan dan penuh kenangan, seperti Hai Miiko.
barangkali kamu memang harus bilang ke Pak Nur, ini salahmu, bukan salahku.
Omooo!!! Ahhh lucuu banget
BalasHapushahahah thank u bestie!!!
Hapus