Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek
Hari ini, ada gigi palsu yang tinggal di mulutku, di antara gigi-gigiku lain; yang asli. “Halo, selamat datang,” aku rasa aku perlu mengucapkan salam. Usiaku baru 22, angka kembar, kepala yang lebih besar daripada kepala satu. Aku merasa sudah menjelma menjadi nenek-nenek, yang tubuhnya banyak yang tidak asli. Gigi palsuku hanya berukuran seperempat dari ukuran ujung jari kelingking, letaknya di depan sendiri. Dia menjadi tambalan untuk gigi asliku yang patah. Kalau saja gigiku tidak patah, aku tidak akan punya gigi palsu dan tubuhku tidak akan menjelma jadi nenek-nenek sedini ini. Aku tidak menyesal, hanya saja, sedikit sedih. Mulai sekarang, selamanya aku akan punya seperempat gigi palsu yang letaknya di depan. Aku tidak mungkin mencabutnya lagi karena aku akan semakin menjadi nenek-nenek yang ompong kalau aku tidak punya seperempat gigi.
Suasana di poli gigi pagi
tadi sangat cerah, sama sekali tidak muram dan aku sama sekali tidak takut. Aku akan lebih takut kalau gigiku ompong di depan. Ibu dokter
gigi baik sekali, beliau tidak menanyakan kemana perginya seperempat gigiku. Aku
rasa beliau tidak akan percaya kalau aku telah menelannya semalam, bersama remahan
rengginang di mulutku. Ini semua gara-gara rengginang yang sekeras batu. Jadi, mulai
tadi malam sampai seminggu berikutnya, aku tidak akan makan rengginang. Aku tidak
bisa benci rengginang selamanya, karena rasa gurih dan asinnya adalah salah satu
alasan kenapa aku ada di dunia. Rengginang memang segurih
itu. Proses penambalan gigi ternyata tidak semenegangkan yang aku bayangkan. Suara
mesin di poli gigi mungkin adalah suara monster di telinga anak-anak, tapi, aku
bukan lagi anak-anak. Ibu dokter gigi
berkacamata dan suaranya lembut, tidak buru-buru dan telaten sekali. Selama proses
penambalan gigi, aku tidak bisa bersuara, tentu saja karena mulutku harus
menganga sampai selesai (dengan bantuan penyangga gusi). Aku kumur-kumur
sampai tujuh kali selama proses gigiku ditambal, melamun sepuluh kali, dan menahan
malu berkali-kali. Malu karena tirai poli gigi hanya ditutup setengah, artinya,
orang-orang di luar poli (yang mengantri) bisa melihatku yang sedang menganga
lebar dan aku tidak bisa protes pada ibu dokter gigi karena aku tidak bisa
bersuara. Selepas gigiku ditambal, aku membayar sebesar seratus
ribu rupiah. Ini adalah harga seperempat gigi.
Sampai di rumah, aku buru-buru becermin. Aku melihat dengan jelas bahwa
gigiku kembali seperti semula. Pekerjaan yang ajaib. “Gigi palsu,
selamat datang di mulut baru. Semoga kamu betah selamanya.” Kalau
memungkinkan, selamanya. Kalau tidak memungkinkan, secukupnya.
Komentar
Posting Komentar