Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Review Singkat yang Berantakan untuk “Laut”

Gambar
Sumber : Gramedia Judul                : Laut Bercerita Penulis             : Leila S. Chudori - “Matilah engkau mati Engkau akan lahir berkali-kali...” Secuil puisi yang sukses membawa saya mengarungi Laut sampai dasarnya. Secuil puisi yang betul-betul punya kekuatan dahsyat sampai saya tenggelam ke dalam buku Ibu Leila ini. Ah, saya merasa sangat terlambat baru membaca novel ini sekarang, di akhir tahun 2019. Halaman demi halaman di dalam novel ini seperti nyata, mereka mengobrol dengan saya sampai di halaman terakhir dengan alur yang pelan namun tajam. Saya bak disihir oleh kata-kata! Gila! Lagi, dosa sekali rasanya nge bucin in novel satu ini. Menusuk-nusuk tulang, bikin meringis kesakitan, dan nangis-nangis bawang. Total betul! Di awal-awal cerita saya sedikit teringat dan terbawa buku Saksi Mata milik Seno Gumira Ajidarma. Tapi, tetap, Ibu Leila berhasil membawa saya menuju halaman terak...

Ibu, Ibu, Ibuku sayang...

Gambar
Teruntuk ibu, ibu, ibuku sayang. Ibu bumi, ibu bulan, ibu bintang. Yang raganya tak lagi mampu kugapai. Adalah di sini nona kecil yang ingin menuliskan kecamuk dirinya sejak Ibu pulang terlebih dulu. Tidak di rumah, tidak di kamar, tidak di ruang tamu, tidak di ruang keluarga, tidak dimana-mana. Ibu pulang ke pangkuan Tuhan. Ibu, ibu, ibuku sayang, percayalah nona kecilmu ini begitu pandai menulis tentang kehilangan. Namun perihal Ibu, sungguh, nona kecilmu ini tak mampu melayangkan sebuah kehilangan melalui puisi. Tidak ada satu pun perayaan kehilangan melalui puisi, perihalmu.  Sebab a ku selalu gagal, Ibu. Aku selalu berubah menjadi tak runtut. Aku menjelma kalimat-kalimat yang berkeliaran pun tak padu. Selalu, Ibu. Ibu, ibu, ibuku sayang, adalah disini nona kecilmu terjerat dongeng ironis dengan dia sebagai  sang protagonis. Aku, Ibu, aku, mencoba menulismu di bawah lentera mentari remang-remang dengan sisa-sisa tinta warna merah yang merekah. Aku, Ibu, aku...