Ibu, Ibu, Ibuku sayang...
Adalah di sini nona
kecil yang ingin menuliskan kecamuk dirinya sejak Ibu pulang terlebih dulu.
Tidak di rumah, tidak di kamar, tidak di ruang tamu, tidak di ruang keluarga, tidak
dimana-mana. Ibu pulang ke pangkuan Tuhan.
Ibu, ibu, ibuku sayang,
percayalah nona kecilmu ini begitu pandai menulis tentang kehilangan. Namun
perihal Ibu, sungguh, nona kecilmu ini tak mampu melayangkan sebuah kehilangan
melalui puisi. Tidak ada satu pun perayaan kehilangan melalui puisi, perihalmu.
Sebab aku selalu gagal, Ibu. Aku selalu berubah menjadi tak runtut. Aku menjelma kalimat-kalimat yang berkeliaran pun tak padu. Selalu, Ibu.
Sebab aku selalu gagal, Ibu. Aku selalu berubah menjadi tak runtut. Aku menjelma kalimat-kalimat yang berkeliaran pun tak padu. Selalu, Ibu.
Ibu, ibu, ibuku sayang,
adalah disini nona kecilmu terjerat dongeng ironis dengan dia sebagai sang protagonis. Aku, Ibu, aku, mencoba
menulismu di bawah lentera mentari remang-remang dengan sisa-sisa tinta warna
merah yang merekah. Aku, Ibu, aku, mencoba menulismu di dalam cangkir yang
kopinya telah menguap, dengan rindu yang semakin bising diantara sesaknya
ribuan purnama yang mengharap dipeluk bintang. Aku, Ibu, aku, mencoba menulismu
di bawah tengkuk bumi yang semakin menggerus diriku. Aku, Ibu, aku, yang lebih
takut kehilanganmu daripada kehilanganku. Walau sudah. Walau sudah kau hilang
bersama gugurnya para bunga yang kalut menuju laut. Walau sudah, Ibu.
Ibu, ibu, ibuku sayang,
aku temukan jiwamu di pojok angkutan kota, ditemani perbincangan senja hingga
lupa alamat si nona. Aku temukan suaramu di antara dua telepon berkarat yang
semakin sekarat. Aku temukan genggamanmu di cermin rupa dalam saku nona kecilmu yang
tersedu-sedu. Aku temukan sayapmu di bingkai foto yang berubah abu-abu. Aku temukan
cantikmu di jemari-jemari Bapak yang sayu. Ibu, lihatlah, air mataku benar-benar
terpenjara.
Ibu, ibu, ibuku sayang,
kusampaikan doa melalui angin yang menghalau hujan. Ibu, ibu, ibuku sayang, ayo
kita bertemu di halaman-halamam cerita fantasi Semangka Hitam. Ayo kita rayakan
kehilangan melalui pelukan.
Ibu,
cantikku,
ayo kita bertemu di
jalanan lengang saat detik milik detak jam dinding itu membeku.
Ibu,
cantikku,
ibuku sayang...

Komentar
Posting Komentar