gitar tua
"sepi itu nanti ...." Kamu duduk termangu di depan teras rumah yang asing, menggenggam gawai berisi ribuan kontak, tapi aku tahu, kamu jelas kesepian. Udara Berlin pagi ini terlalu dingin, katamu. Padahal aku tahu persis, udara adalah bagian sunyi dalam tubuhmu yang kau selipkan paksa pada jemari kekarmu. Lagu tidak lagi menjadi bagian sembuh yang mengutuhkan rindumu. Jari-jarimu kaku, menangis, dan gitar tua itu jatuh ke dalam selokan kota. Namun, apa pedulimu dengan jatuh? Kamu tidak pernah mau mengakui, kamu lalu tersesat dalam kesepian karna gerbong kereta itu tukang tipu. Kamu berteriak "tolong" berulang kali, tapi tidak satu pun sampai di telinga orang-orang. Kamu cemas dan buru-buru ingin berlari tapi kamu justru menenggelamkan diri. "sepi itu nanti ...." Aku sering bilang tapi kamu tidak kunjung mau mengakui, kamu setengah tenggelam, tuan. Kamu terlalu ramah pada dunia dan berpikir semua akan baik-baik saja. Kamu selalu memaksa tidak ada yang nam...