Review Singkat yang Berantakan untuk “Laut”

Sumber : Gramedia

Judul                : Laut Bercerita
Penulis             : Leila S. Chudori
-
“Matilah engkau mati
Engkau akan lahir berkali-kali...”
Secuil puisi yang sukses membawa saya mengarungi Laut sampai dasarnya. Secuil puisi yang betul-betul punya kekuatan dahsyat sampai saya tenggelam ke dalam buku Ibu Leila ini. Ah, saya merasa sangat terlambat baru membaca novel ini sekarang, di akhir tahun 2019.

Halaman demi halaman di dalam novel ini seperti nyata, mereka mengobrol dengan saya sampai di halaman terakhir dengan alur yang pelan namun tajam. Saya bak disihir oleh kata-kata! Gila! Lagi, dosa sekali rasanya ngebucinin novel satu ini. Menusuk-nusuk tulang, bikin meringis kesakitan, dan nangis-nangis bawang. Total betul!

Di awal-awal cerita saya sedikit teringat dan terbawa buku Saksi Mata milik Seno Gumira Ajidarma. Tapi, tetap, Ibu Leila berhasil membawa saya menuju halaman terakhir dengan cepat. Buku dengan dua sudut pandang yang kontras, dari si sulung Laut dan si bungsu Asmara. Ini bukan sebatas cerita kakak-adik, cerita ini lebih memangku konteks yang luas dengan membawa masa-masa kelam Orde Baru. Buku yang saya kira isinya akan penuh dengan romansa, tapi ternyata saya salah! Buku ini sudah bisa saya tebak endingnya, tapi tapi tapi tetap bikin nagih dan nambah dan tidak rela selesai begitu saja.

Biru Laut Wibisana, sang karakter utama, yang mengambil seluruh-luruhnya mata saya, dan membawa saya menilik cara pikir seorang Laut, cara jatuh cinta seorang lelaki, ketegasan Laut yang beringas, dan kekuatan teguhnya seorang Laut. Karakter Laut ini sekejap bikin ingat Soke Bahtera-nya Bang Tere. Hanya sekejap. Karena nyatanya mereka berdua berbeda.
Ibu Leila sendiri menggambar dengan utuh si Laut sampai saya bisa mengimajinasikan bagaimana rupanya (tentu tidak seperti Reza Rahardian yang mengambil peran sebagai Laut di film hasil adaptasi buku ini lho yaa, hehe). Awalnya, saya mengira Laut ini karakternya akan terus kalem dan tenang seperti air di permukaan, eh ternyata saya sukses dibuat misuh-misuh bareng dia di setiap halaman menuju tamatttt (asli, tidak rela). Cerita yang tragis, sadis, dan penuh siksa!
Sekian.

---Terima kasih sudah membaca review saya yang berantakan ini, salam literasi!---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken