Aku Ini Puisi


Bumi, aku ini puisi. Aku ini bahasa-bahasa asing. Aku ini kata-kata yang tak pernah terlintas di kening-kening. Aku ini huruf-huruf yang tak aturan. Tak runtut. Tak padu. Tak jelas. Yang tak punya rumus. Yang susah dipecahkan dan diselesaikan.

Bumi, aku ini puisi. Aku terjerat pada sekat-sekat kalimat milik penyair yang miskin hati. Aku menjadi bagian sakit setiap pena yang kehabisan kata. Aku menjadi bagian angin dan angan dalam dunia fantasi. Aku ada. Aku tak ada.

Bumi, aku ini puisi. Aku hidup di lingkungan rumit. Aku belajar bernapas lewat kertas. Aku bebas. Tapi tak lepas. Aku berteman dengan bahasa berat. Yang tak pernah bisa ditebak kalbu.

Bumi, aku ini puisi. Aku tonggak setiap gagak yang ingin bicara. Aku bertiup dan terhempas lewat rindu dan teman-temannya. Aku melatih tubuh untuk terus mengubur dosa. Aku mengejar lubang kehampaan untuk melabur malam. Aku hidup dan mati dalam tokoh yang berbeda. Aku hidup dan mati dalam suasana maharupa.

Bumi, satu lagi, aku ini puisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken