SINEMA KECIL : MENGINGAT 2014

Fida dan Faza, kelulusan SD
Mencari jati diri di dunia adalah meditasi. Siapa sebenarnya diri kita, apa yang akan kita rangkul di dunia ini untuk bisa jadi diri sendiri, dan bagaimana kita akhirnya akan paham pada satu titik akhir tentang apakah “hidup” itu. Hal-hal seperti itu bisa dibilang terlalu berat untuk jadi pemikiran seorang anak umur 13 tahun yang baru saja jebol dari SD dan akan masuk ke kehidupan gaul ABG cabang SMP. Setelah kehidupan SD puas memberiku banyak tantangan mental yang berat, setelah Allah harus menjemput Ibu untuk pulang, setelah aku khatam terpuruk dalam kesedihan, aku memutuskan pergi ke SMP yang jauh...untuk menjauh (haha?)

Yang menarik nan unik di tahun pertama di SMP adalah : perubahan sikap dari diriku sendiri yang langsung berubah total 360ยบ! Sebuah pencapaian yang kalau Ibu lihat “aku” sekarang, pasti Ibu langsung menganga tidak percaya (hahaha mungkin!). Karena dari dulu, Ibu cukup gemes lihat aku yang terlalu dan memang sangat sangat pendiam. Ibarat kata kalau enggak disenggol, enggak ngomong. Sampai-sampai waktu kelas 2 SD dulu Ibu bilang ke sahabatku, Tyas, “Faza diajarin dong jadi cerewet!”. WOW sungguh Ibu yang langka sodara sodara!!! Tapi aku dan Ibu memang beda kalau dilihat dari cover sifat (eaak) : Ibu itu cerdas, guru Biologi-Fisika-Kimia, cerewet (maap Ibu ehehe), humor Ibu juga bagus karena kalau ngajar muridnya pasti diselingi komedi-komedi gitu bikin seisi kelas tertawa renyah! Sedangkan anak tengahnya ini : pendiem tingkat dewa-raja-naga (wuzzz lebay hahahahh), pinter standar (apatuh pinter standar?? pokoknya mayan deh masuk 10 besar diantara makhluk-makhluk jenius waktu SD tuh HAHAHA), tidak punya selera humor dan sering telmi kalo diajak ngelawak dan sering pula pikun padahal masih muda. Hancur total deh sosialisasiku semasa SD. Untung punya temen ya aku tu :’D

Perubahan sikapku yang total itu disponsori oleh renungan pada suatu pagi, sebelum berangkat ke sekolah baru, hari perdanaku masuk SMP! Semua bermula di depan cermin, menatap diri, berbisik dalam hati : ayo cari teman baru! Nyapa duluan! Jadilah berbekal motivasi nekad (pake “D”) dan sotoy untuk jiwa raga yang sulit sosialisasi ini, akhirnya aku sukses besar dapat beberapa teman baru di hari pertama. Ada Alisa, Hasna, Alda! Satu lagi yang alhamdulillah kami sekelas dan duduk sebangku, namanya Putri, pindahan dari Tangerang katanya. Hehe mampus. Teman baru yang ternyata juga baru aja menginjakkan kaki di tanah Magelang ini. Canggung banget ngobrolnya, mana aku (yang berusaha ngomong dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar) justru terkesan norak dan medhok dan kampung HAHAHAHA. Tapi Putri baik banget, aku bersyukur dapat chairmate yang kalem. Walaupun jadi banyak diamnya karena kita sama-sama pendiem, waktu itu, d’uh.

Setelah mengawali tabiat baru dengan menyapa orang asing (becanda hehe), hari-hari selanjutnya aku lanjutkan dengan mengamati teman-teman sekelasku untuk bisa lebih cepat beradaptasi. Ajaibnya, aku kagum. Sungguh. Teman-teman kelas 7C, ingat sekali mataku waktu itu, bagaimana aku berbinar-binar, dan bilang dalam hati : oh, ini yang namanya teman. Alias, teman yang sungguhan bisa mengartikan keseluruhan makna dari berteman sendiri. Mereka enggak bohongan. Ekspresi mereka, cara bicara mereka yang ceplas-ceplos, cara mereka menanggapi ejekan, cara mereka membawaku menuju kecerewetan! Nah ini nih yang jadi akarnya! Aku jadi melepas diriku yang lama dan tiba pada raga yang benar-benar aku. Aku tiba di pintu baru, bersama teman-teman yang cerewetnya persis toa nyaring di sudut desa. Dimana tokoh utama dari toa-toa tersebut ialah Akhdan, Agista, dan Ayu. Triple A untuk melengkapi suasana 7C yang bahkan sudah melebihi kapasitas rame! Barbar abis pokoknya! Tapi aku suka. Aku juga suka dengan aku yang berjaya menemukan apa yang aku suka (maap muter-muter). Aku suka dengan teman-teman 7C yang enggak bermuka dua. Aku suka bahwasanya aku telah menemukan jiwaku yang lain, yang ingin memberontak keluar dari ketakutan dan kediaman (apa sih kediaman HAHA). Sederhana tapi rumit, aku akhirnya terlahir kembali menjadi Faza yang lebih terbuka mulutnya (serius! lol) dan lebih terbuka lagi konsep kehidupannya.

Terlepas dari sejarah aneh itu, di umur 13 tahun itu pula, aku menemukan kepingan puzzle kehidupanku yang lain. Bagaimana ya, menceritakannya...hm? Ini berawal karena ide salah satu dari kami, aku dan teman-teman. Aku tidak bisa megingat bagaimana detail kejadian waktu itu (yeah, you’ve already know that I’m a pikun girl fiuhh), di akhir tahun 2014 aku, Gista, Ayu, Aulia, Putri, Yuvi, Wida, Akhdan, Gigih Bayu, Yusuf, Faras, dan Naufal (asli rame banget haha) merencanakan buat bikin short movie. YES MOVIE! IN OUR 13th y.o! It’s sounds good, right? Kami pergi ke rumah Akhdan untuk shooting dan prepare-nya kami tuh betul-betul total karna sampe merencanakan menginap di sana. Tapi, anak-anak cewek jelas nginep di rumah Ayu, yang paling dekat dari rumah Akhdan, dan kalian juga tau kita ga mungkin barengan lah sama laki-laki HAHAHA. So, pagi-pagi kami sudah di rumah Akhdan dan shoot scene di sana.
judul filmnya ini :D
naskah amatiran :'D

Aku mengambil bagian sebagai penulis naskahnya dan cameraman dan sutradaranya HAHA. Uh, aku tidak tau kenapa aku sangat bersemangat waktu itu, tapi aku seperti menemukan hobi dan dunia yang baru yang membuatku sungguh tertarik?!! Kedengarannya memang asik dan hebat. Tapi percayalah, kami tidak benar-benar berhasil membuat film itu, karena kami justru asyik ngobrol dan makan di sana! :’D Jadi, kami hanya mengambil sekitar 3-5 scene dan itu pun hanya praktik kecil. Judul kegiatan kami tidak lagi tentang membuat film, tapi berakhir menjadi MAIN AND HAVE FUN :)

Tapi, inilah yang ingin aku bicarakan, menyangkut dengan tanggal di hari ini : 30 Maret : Hari Film Nasional. Alasan kenapa aku ingin ngoceh di blog, alasan kenapa aku jadi tertarik dengan dunia perfilman, alasan kenapa aku ini begitu sukaaaa dengan semua hal yang berkaitan dengan film?

Mungkin cerita ini bisa menjawab, tapi mungkin juga tidak, karena sesungguhnya aku tidak begitu pandai mengekspresikan emosiku yang meluap-luap dalam bentuk tulisan seperti ini, hmm..but maybe I can?

Dari kejadian gagal-bikin-film itu, dua tahun setelahnya aku baru menyadari bahwa meditasi kehidupanku membawaku pada satu hobi yang lagi-lagi membuatku kecanduan. Ini tentang film, ini tentang sinema, ini tentang aku. Bahwa ternyata aku memang ditarik menuju gravitasi yang tidak kalah serunya dengan menulis, atau menggambar, atau membaca. Bahwa ternyata aku punya ketertarikan pada hobi yang tidak hanya diam di rumah (lol).

Selamat Hari Film Nasional, manusia!

(biar kuberi tahu kalian tentang kejutan kehidupan, di part selanjutnya!---tentu saja masih tentang dunia film hehe)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken