Sedikit Cuplikan Si Maestro Manis
Hari itu, waktu aku sedang sibuk meniti tangga puisi, waktu aku sedang kabur dari tanggung jawab untuk melupakan seorang manusia. Kamu datang. Tanpa aba-aba ketukan pintu, kamu tiba-tiba menanyakan namaku. Tapi tidak langsung. Kamu nampak penasaran lewat lubang mata. Eh, tapi gertakan drum-mu sampai padaku. Serta hadirmu.
Kenapa, ya?
Tapi kupikir-pikir. Kurasa. Ini aku yang baru pertama kali kena sorotan lampu konsermu. Lalu kamu bernyanyi di depanku. Seolah-olah penonton panggung musikmu hanya aku. Lalu aku diam-diam senyum sendiri di saat sepi. Senyum-senyum sambil ikut anggukan tiap pukulan drum-mu itu.
Eh, asik banget, lho.
Aku diam-diam juga sedikit penasaran. Dan ingin koreksi diri. Dan ingin koreksi liriknya, ih, tapi aneh juga, kamu ternyata suka Hindia! Dan aku baru sadar kalau aku lupa menulis rumus matematik lain dan justru bisu pada layar gawaiku. Dan hari-hari berikutnya aku isi telingaku dengan musikmu. Biar rasanya aku disorot lampumu. Silau, sih. Tapi aku hapal lirikmu dalam hitungan jari!
Lalu aku terus larut sampai yang ke sekian jauh tapi aku berdoa semoga aku tidak buru-buru jatuh. Karena, ya, aku jadi manusia saja masih sulit utuh.
Kesimpulannya : buat apa curiga dengan gerak-gerikmu yang kutemui dimana-mana. yang rasanya sana sini aku pijakkan kaki, pasti matamu dan mataku bertemu.
Aku bingung tapi satu waktu aku juga mau tau. Ini aku bertemu si kebetulan atau aku sedang panen kepedean? Aku diam-diam ingin minta kamu membantu cari kunci jawaban. Eh, tapi, kamu baunya banyak misteri. Aku jadi ragu, tapi aku justru makin dikelilingi ingin yang ramai—yang rasanya akan lama usai. Daripada bau misteri, bau mataharimu lebih menyengat sih, karna aku sering lihat kamu hobi mencuri rute tempat biji bunga berjemur, padahal kamu tahu mereka sudah berumur.
Aku juga dengar kamu main drum di panggung sekolah waktu aku sedang main potret dunia. Tapi, aku kok tidak melihat ujung suaramu, ya? Tiba-tiba saja kamu sudah ada di layarku sambil pamer gemericik nada-nada yang pandai beradu.
Terus wajahmu seolah bilang padaku lewat untaian dentum drum : bantu aku hidup, ya?
Terus aku jawab saja saat kamu duduk di depan kelasku : memang kamu kepingan puzzleku yang nomor satu?
.
,🔮.

Ehm
BalasHapusehm balik :D
Hapus