move on (kali ini serius)
Aku ingin mengumumkan berita penting untuk diriku sendiri, dan mungkin untuk teman-temanku juga di sini dan di sana. Bulan Desember lalu, aku memutuskan untuk move on. Aku enggak ingat Desember itu di pertengahan atau di awal atau di akhir Desember. Kalian tahu? Teman-temanku sering menyebutku ikan Dory, bukan Dory yang dibakar dan dimakan di restoran yang enak itu, tetapi ikan Dory yang temannya Nemo, atau teman ayahnya Nemo? Enggak ingat juga sih. Aku selalu lupa. Jadi, karena nama lainku adalah Dory—yang temannya Nemo, bukan yang dimakan di restoran, aku harap aku bisa move on dengan mudah. Kali ini aku serius. Biasanya aku memang sering bercanda soal move on-move on ini. Dari awal, sejak aku naksir orang itu, aku sering bilang kalau "aku mau move on" setiap seminggu sekali. Waktu itu alasannya simple, soalnya dia pinter bahasa Inggris sedangkan aku enggak, dia banyak fans-nya sedangkan aku? Mungkin satu-satunya fans-ku adalah diriku sendiri. Dengan alasan itu, dulu di tahun 2018 aku mau move on karena aku sadar diri, ibaratnya dia setinggi langit sedangkan aku hanya akar rumput yang lihat dia dari jauh.
Sedih ya? Aku harap itu cuma cinta monyet, tapi kenyataannya enggak. Ternyata itu cinta beneran (mungkin? aku enggak begitu yakin sih sama cinta-cintaan). Aku merasa itu bukan lagi cinta monyet, karena aku naksir orang itu sampai 5 tahun. Gila. Aku memang gila, tapi bukan cegil, aku enggak mau dipanggil cegil lagi. Sekarang aku sudah waras. Yang paling tahu jejak aku dan orang itu di SMA tentu saja Depa, kayaknya dia juga yang menghitung niat move on-ku dari tahun 2018 sampai sekarang, kayaknya. Tapi kali ini, Atika yang paling tahu soal keseriusan move on-ku. Dia teman yang baik sekali, dan dia enggak menganggap kalau keseriusan move on-ku ini konyol. Dia serius, aku juga serius. Jadi, jangan sebut mas-mas Jerman itu lagi ya, teman-teman. Aku udah enggak berharap lagi sama orang itu. Tapi kalau masih ada yang mendoakan dengan kalimat “semoga cepet jadian sama mas Jerman,” ya, aku enggak akan menolak, aku mau mau saja aamiin-kan itu. Soalnya, aku enggak tahu itu doa bagus atau jelek. Yang tahu Allah, aku ikut saja sama Allah, yang penting aku baik-baik saja. Bukankah itu kuncinya? Selama aku baik-baik saja, aku rasa aku memang beneran akan baik-baik saja. Tapi kalau ternyata doa itu jelek, dalam artian lain tidak cocok denganku dan akan membuatku tidak baik-baik saja, semoga aku enggak berusaha untuk minta malaikat ikut meng-aamiin-kan itu. Kita doa yang baik-baik saja ya kalau begitu. Contohnya, semoga Faza cepat kaya. Aamiin. Yang penting, sekarang aku sudah sadar diri dan waras. Aku sudah yakin keputusanku ini benar karena 5 tahun kemarin, selama aku naksir orang itu, aku dan orang itu enggak pernah ada kemajuan apapun. Itu yang membuatku sadar kalau sebenarnya aku tidak seberusaha itu untuk jadian sama dia, dan dia juga enggak seberusaha itu untuk melirikku. Aku dan dia ada di dunia masing-masing, yang berbeda, dan jauh. Kalau kalian baca ini, mungkin emang kelihatan konyol banget dan masih enggak waras. Tapi aku serius loh, beneran, dua rius. Saking seriusnya, mungkin aku akan teriak IDGAF di depan orangnya langsung. Tapi itu enggak mungkin, lagi pula dia jauh, dan aku masih punya tata krama, dan dia orang yang baik. Jujur, aku bahkan terkejut dengan keseriusan move on ini karena, kemarin aku enggak mengirim ucapan selamat ulang tahun ke orangnya. Mungkin memang berhasil deh move on-nya, soalnya aku lupa kalau dia ulang tahun kemarin. Aku baru ingat waktu lihat storinya di WA. Aku sudah sempat ingin mengetik, tapi aku hapus lagi dan kuurungkan niatku. Lagi pula, aku yakin kalau dia sudah dapat ucapan ulang tahun dari 100 orang, atau mungkin 200, temannya banyak sedangkan temanku cuma kalian. Selain itu, ucapan dariku tidak penting-penting amat di hidupnya, soalnya aku yakin sekali kalau dia hanya akan menjawab "terima kasih Faza". Dibubuhi emoticon senyum lebar yang ada giginya itu. Aku muak. Aku mengetik ini semua bukan karena insecure atau putus asa ya, kan ini bukan perlombaan? Aku hanya sadar diri. Aneh rasanya bahwa aku sudah sadar diri, padahal setiap tahun biasanya aku selalu menunggu-nunggu hari ulang tahunnya. Aku akan menyiapkan kalimat paling eye catching dan paling berbeda dari ucapan ulang tahun yang pernah ada di dunia. Mungkin aku akan memikirkan itu semalaman, atau bahkan seminggu sebelumnya. Memang orang gila. Aku jelas akan merindukan masa-masa itu. Pokoknya, sekarang aku enggak suka sama siapa-siapa—Yoongi pengecualian—dalam artian di kamus Gen Z, aku sekarang ada di crushless era alias enggak punya crush. Yaudah sih, itu saja pengumumannya. Pengumuman yang serius, dan agak kutulis santai karena aku lagi mencoba gaya menulis ala Metro (salah satu tokoh di buku Ziggy), kesannya memang aneh dan nyeleneh, tapi aku menikmati gaya menulis seperti ini. Semoga kalian enggak panggil aku cegil lagi, karena aku sudah waras.
NB: aku akan menulis dengan bahasa yang lebih baik dan keren lain kali, saat ini sedang tidak bisa keren karena otakku penuh diisi dialog Metro yang berisik (salah satu tokoh di buku Ziggy, judul bukunya “Pulau Batu di Samudra Buatan”). Bahasa dan gaya menulisku jadi agak aneh dan berisik gara-gara Metro. Sorry.
*Kisi-kisi tulisanku selanjutnya yang (aku janji) lebih baik dan lebih keren:


Semangat move on nya, ngga mudah tapi aku yakin kamu bisa ☺️🤗
BalasHapusterimakasihhhh 🥺
Hapus