Suatu Hari, Ada Kelinci yang Makan Otak Manusia (Suatu Hari, Kesepian Mengikat Manusia pada Kehidupan)
Dua bulan terakhir ini, aku sedang agak tertarik membaca buku kumpulan cerita pendek (baca: Kapan Nanti dan Cursed Bunny). Ketertarikanku pada buku Cursed Bunny berbeda dengan ketertarikanku pada buku Kapan Nanti-nya Kak Ziggy. Pertama, buku kelinci dalam versi terjemahan Bahasa Inggrisnya punya cover yang menarik. Kedua, Kak Izzati berkali-kali merekomendasikan buku kelinci di laman instagramnya, bahkan Kak Izzi sampai menghadiri bincang-bincang online bersama sang Ibu Kelincinya—Bora Chung! Akibatnya, rasa penasaranku semakin naik sampai terbang-terbang di alam mimpi. Ukuran penasaranku akan sebuah buku ini sangat langka, karena biasanya aku hanya membeli novel atau buku fiksi based on their writer(s). Jadi, karena momen ini termasuk langka, aku tentu saja harus menulisnya karena aku selesai membacanya.
(mengandung spoilers…harap hati-hati!)
Suatu hari, ada kepala yang muncul dari lubang toilet. Suatu hari lain, ada perempuan yang hamil gara-gara menstruasi yang tidak kunjung usai. Suatu hari lain, ada kelinci yang makan otak manusia (ini gong-nya!). Suatu hari lain, ada dua hantu kesepian yang terikat di dunia. Suatu hari lain, aku takjub dengan salah satu cerpen yang berjudul “Bekas Luka”. Sebenarnya, takjub ini bukan karena aku menyukai ceritanya, justru aku sangat benci ceritanya karena membuat kepalaku berputar-putar. Tapi, entah kenapa, kesepian yang dimiliki oleh sang tokoh utama “Bekas Luka” terlampau menyayat hati daripada tokoh-tokoh kesepian lain yang ada di cerpen-cerpen lainnya… sampai aku harus berhenti membaca cerpennya beberapa saat (mengambil napas) setelahnya baru bisa melanjutkan lagi, karena kesepiannya begitu menyesakkan. Ibu Kelinci (Bu Bora) bilang kalau buku ini memuat tokoh-tokoh yang kesepian di dunia, mungkin sedikit mewakili kesepian para pembaca. Tapi lebih daripada itu, sesungguhnya yang benar-benar aku garis bawahi setelah selesai membacanya adalah: amarah dan dendam yang tidak terbendung. Kritik penulis terhadap keresahan wanita (terutama wanita Asia, maybe…) dan kritik penulis terhadap patriarki, kapitalisme, dan eksploitasi wanita (!!!) benar-benar jelas tersampaikan melalui kisah-kisah tokoh-tokoh kesepiannya.
Tapi, tapi, tapi, selama aku tercengang dalam ketidakbasa-basian Ibu Kelinci di bukunya ini, terkadang aku menganggap cerpen-cerpennya lebih mengarah ke fiksi mini. Mungkin sedikit bisa kuanggap begitu, ini menurutku. Seperti dongeng, mirip juga legenda kuno, tapi juga mirip gossip ngeri yang diceritakan ulang dari mulut ke mulut tanpa tahu “siapa yang siapa”. Karena cerpen-cerpennya hampir semuanya tidak memuat sebuah nama. Kebanyakan hanya diceritakan secara netral, seperti “laki-laki itu”, “perempuan itu”, “pemuda itu”, “kakek itu”, “anak laki-laki itu”, dan lain-lain. Identitas yang mencakup “keluasan” ini seakan-akan memberi kita kesempatan untuk bisa menganggap tokoh-tokoh tanpa nama itu sesuai apa yang kita mau, apa yang kita percaya, apa yang kita bayangkan. Ada kebebasan di dalam konsep menulis Bu Bora ini. Uniknya juga, tidak ada basa-basi di dalam cerpen-cerpennya, Bu Bora menulis dengan alur yang cepat dan to the point, tapi anehnya meresap cepat di kepalaku yang (sedikit) lambat ini #he. Dan aku menyukai terjemahannya! Karena aku membaca versi terjemahan bahasa Indonesia, biasanya ada bagian kalimat-kalimat yang terlalu baku di dalam buku terjemahan, tetapi hal itu tidak ada di buku Kelinci Terkutuk. (((tapi aku masih ingin membaca versi English-nya #kekeuh)))
Meskipun selama membaca dan membolak-balik lembar buku ini aku hanya bertemu keresahan, kemuakan, ketidaknyamanan, tapi aku paling menikmati bagianku bertemu dengan kesedihan; “aku masih di kamar mandi, berharap keajaiban akan membawa seseorang datang melepaskanku yang terikat dalam kehidupan ini.”
Cerpen berjudul “Reuni” mengandung kadar kesedihan sebanyak lautan, bagiku, sampai-sampai aku takut tenggelam di dalamnya. Aku selesai membacanya dengan terbengong-bengong mengetahui keterikatan manusia dengan kehidupan sesungguhnya begitu sepi dan sangat … menyedihkan. Bu Bora bahkan menutup bukunya setelah mengatakan, “mungkin kebenaran, memperjuangkan hal yang semestinya, dan balas dendam bisa jadi diperlukan, tetapi walaupun semua itu terselesaikan, dunia tetaplah tempat sepi yang membuat manusia kesepian.”
Sadly, we’re all loneliness itself.

Komentar
Posting Komentar