karena dia bisa ngomong bahasa Inggris
Aneh nggak sih, bahwa ada yang bilang Hitler mati di Garut? Dan aneh nggak sih, suka sama seseorang di umur enam belas tahun cuma gara-gara takjub, "Wah dia bisa ngomong bahasa Inggris!". Takjub yang berlanjut menjadi tingkat-kepo-paling-tinggi-sejagat-raya, mencari kepalanya di barisan upacara hari Senin, curi-curi pandang, cari nomor WhatsAppnya dengan kedok mau ikut pengajian rutin sore hari sekolah, menyebutnya Dewa Ghaib karena hobi menghilang, menyebutnya David Bowie karena suaranya bagus, lari-lari tiap habis solat biar bisa jalan persis di belakangnya, dengerin lagu yang dia dengerin, minta diajari cara ngedit video, saling sapa di kantin, dan saling tukaran pesan "happy birthday!".
Takjubku yang sederhana itu membuatku jadi agak gila setiap menulis puisi, setiap dengerin Heathernya Conan Gray, setiap inget hal-hal kecil seperti belalang atau kamera. Menciptakan foto kita waktu kamu wisuda, dengan senyum yang menggelikan dan dua jempol malu-malu. Menciptakan "sepi itu nanti" yang tercetak di dalam buku antologi puisi. Menciptakan obrolan tentang bubur instan yang mahal di Jerman. Menerima sekitar sepuluh pertanyaan "jadi gimana kamu sama mas Jerman?". Padahal sebenarnya, ya, kita nggak pernah jadi apa-apa. Semuanya terjadi begitu saja dan itu cuma keinginan hatiku untuk jadi remaja SMA yang seru, yang jatuh cinta, yang naksir kakak kelas keren. Dan pada akhirnya, tidak pernah ada lagi notif pesanmu yang muncul, tidak ada percakapan, tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Walaupun sebenarnya, ya, kita nggak benar-benar pernah ada di sebuah interaksi yang sungguhan.
Komentar
Posting Komentar