Ada Tiga Ulasan dalam Kayu

image: www.bukabuku.com

Aku selesai membaca buku ini selama seminggu lebih. Pertama aku kecewa karena aku tidak mendapatkan surat cantik Ziggy yang terbatas itu. Tapi, tidak apa-apa, soalnya isi bukunya juga cantik. Cantik tapi agak gila.

Seratus enam puluh halaman dan tujuh belas cerita. Buku ini adalah kumpulan cerita pendek. Kedua, aku akan berhenti untuk berspekulasi tentang sampul buku yang lucu, karena isinya tidak selalu lucu. Termasuk buku Tiga dalam Kayu ini.

Aku tau kalau Ziggy adalah penulis luar biasa sejak aku membaca Di Tanah Lada, Semua Ikan di Langit, dan Kita Pergi Hari Ini. Tapi aku tidak tahu kalau di dalam buku Tiga dalam Kayu ini, dia sedikit mirip Edogawa Ranpo. Karena isi ceritanya gila. Dan aku sering bertanya-tanya tentang bagaimana isi otak para penulis dibuat? Bagaimana cara penulis bisa memproses begitu banyak kepedihan, kesedihan, hal-hal muram, dan kegelapan menjadi susunan kalimat yang membuatku semakin berpikir dan berpikir dan berpikir, lalu diam dan melamun dan kalimat-kalimat itu mengajakku berpikir hingga sedikit gila. Aku akan setuju bahwa permulaan buku Tiga dalam Kayu ini sudah membuat para pembaca terkejut dan segera membuat cuitan, “Ziggy, apakah kamu baik-baik saja saat menulis cerpen-cerpen ini?” dan semacamnya. Ziggy, terima kasih sudah menulis cerita-cerita yang keren dan cantik dan gila.

Aku tidak akan berhenti mengetik “gila” untuk buku ini. Jujur, aku tidak bisa memahami dengan baik beberapa cerpen di dalamnya. Sepintas aku berpikir bahwa cerita-cerita ini adalah puisi yang berbentuk cerpen. Karena puisi kadang sulit juga dipahami. Beberapa cerita dengan akhir mengejutkan membuat otakku kosong, tapi lalu aku tetap lanjut membaca. Ini memang unik dan aneh. Dan cerita-ceritanya adalah tentang perempuan-wanita-gadis. Apakah itu yang membuat mereka sulit dimengerti? Mungkin tidak. Tapi ini kebaikan. Kebaikan yang sangat cantik. Dan cerita yang paling membekas di otakku adalah cerita tentang tukang pemindah barang. Aku akui bahwa dia adalah tokoh yang gila. Sungguhan. Tukang pemindah barang yang isi otaknya bisa pergi ke segala penjuru kehidupan sekaligus, bahasanya yang kadang sulit kumengerti, dan kelakuannya seperti ilmuwan gila yang tidak dihargai. Dan di akhir ceritanya, aku bertanya-tanya, apakah orang terpelajar akan berakhir seperti ini?

Mungkin itu akibat karena dia terlalu menyukai buku. Atau itu memang kebaikan. Aku bingung.

Beberapa cerita yang lain juga memiliki inti kisah yang tidak biasa. Aku berpikir bahwa beberapa cerita sepertinya akan biasa saja bila di lihat di dunia nyata, tetapi ketika ditulis dengan kalimat yang seakan-akan menari-nari dan membentuk cabang-cabang ke pikiran-pikiran yang lain, kisah itu jadi istimewa dan indah. Aku suka bahwa bahasa Indonesia bisa menjadi seramai ini. Kalimatnya ramai dan bisa jadi filosofis. Mungkin kalimat-kalimatnya bahkan bisa dikupas satu per satu untuk menemukan maknanya, karena aku ingin tau. Ceritanya juga, aku berharap setelah ini ada acara bedah buku untuk Tiga dalam Kayu.

Tapi, pokoknya, aku akan memberi lima bintang untuk buku ini. Tiga dalam Kayu adalah buku yang berharga dan memang harus lahir di dunia. Ketiga, walaupun isinya gila, semua orang kurasa perlu membacanya—doaku, di beberapa cerita, semoga para pembaca tidak mual.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken