Ujian Kepekaan Hati
Hari ini sedang ada Ujian Kepekaan Hati di sekolah. Orang-orang tentu saja sibuk pada hati mereka masing-masing. Orang-orang itu, menyentuh-nyentuh kepingan hati mereka sendiri. Tuk, tuk, tuk. Aku juga sedang sibuk mengetuk hatiku. Asal kamu tahu, hatiku terlahir dengan mata tajam sejak dulu. Karena itu, kamu juga pasti tahu kalau di kelas, nilaiku selalu sempurna untuk Ujian Kepekaan Hati. Iya, sih, kamu benar. Aku juga tahu kalau untuk Ujian Membuka Hati, nilaiku selalu paling rendah.
Dan dari dua Ujian itu, paling parah hanya milikmu. Kamu nilainya selalu rendah di keduanya. Entah itu di Ujian Kepekaan hati, atau Ujian Membuka Hati. Kamu tidak pernah belajar, ya? Padahal kamu harus lulus minimal satu dari dua ujian itu biar bisa keluar dan bebas dari Sekolah Hati. Kalau lulus, artinya, kamu sudah menemukan dermaga untuk hatimu.
Oh, belnya sudah berbunyi. Semoga kali ini nilaimu membaik daripada yang tahun lalu. Padahal, Ujian Kepekaan Hati itu mudah. Kamu hanya perlu duduk rapi dan menjawab soal seperti, apakah kamu tahu kalau selama ini ada hati yang melirikmu selama 3 tahun terakhir? Kalau mata hatimu tajam dan enggak mines, kamu pasti tahu jawabannya. Ya kan. Itu enggak sulit. Karena itu perihal ketajaman dan kejujuran hati yang murni.
Atau, kayaknya, aku harus memberimu jawaban saja?
Eh, tidak deh. Nanti kalau ketahuan bocorin jawaban, aku bisa ditendang ke dalam Sekolah Hati Busuk. Di sana bau, kata seorang senior yang pernah menyelamatkan diri dari terkaman Monster Khianat. Seram sekali tampaknya. Aku akan berdoa untukmu saja. Semoga kali ini kamu lulus.
Tapi ya, Ujian Kepekaan Hati itu mudah. Sungguh.
Kamu hanya perlu jujur, dilarang tengak-tengok ke lembar jawab teman, dilarang membawa contekan, dan dilarang mencari jawaban ke luar ruangan.
Dan untuk nomor 7, aku punya tips. Tipsnya, kamu cukup mengingat bisikanku pagi tadi, "Apapun soalnya, jangan silang A, B, C, D atau E! Nanti nilaimu jelek. Jadi, silang saja pilihan yang ke-enam (atau pertama?). Iya! Hurufku! F!"
Cari saja, pasti ada! Aku tidak bocorin jawaban loh. Aku cuma membantumu belajar. Barangkali mata hatimu minesnya memang tinggi, jadi sulit lihat-lihat dan pekanya hanya sebesar butiran debu. Itu gawat, kan! Jadi, kamu harus ingat betul-betul tipsku tadi pagi dan saat ini.
Oh, satu lagi, sebelum kamu masuk ke ruang ujian: kalau lagi-lagi nilaimu di bawah rata-rata, kamu harus ikut remidi. Kamu sudah tahu itu, kan. Ulang, ulang, ulang terus.
Tapi sebetulnya enggak apa-apa. Soalnya aku tetap akan menunggumu sampai semua soal di ujian itu kamu jawab sempurna. Betul semua.
Selamat mengerjakan! Semoga sukses! (Kalimat ini selalu ada di akhir lembar soal, tapi sungguh deh, semoga sukses!)
Nomor 7, jangan lupa: tinggal pilih hurufku!
Hurufku!
Komentar
Posting Komentar