ada kupu-kupu di dalam perut
Ternyata deg-degan (perasaan mendebarkan) hari ini
bukan hanya perihal baca buku Jakarta Sebelum Pagi aja, ada hal lain yang
sampai membuat perutku berisi kupu-kupu. Sampai seakan di dalam perutku ini ada
konser kupu-kupu, usus, dan organ tubuh lain. Bergemuruh, riuh, seperti akan
meletup dan naik ke permukaan; jantungku berdetak tidak karuan.
Kurasa ini karena keberanian, kenekatan, dan kekepoanku
tadi pukul 18.48. Gara-gara bubur, lebih tepatnya bubur yang diunggah olehnya
di stori watsap. Kenapa ya, kenapa aku saat itu langsung buru-buru mengetik
komentar dan langsung tekan tombol kirim??? Tanpa babibu??? Tanpa memikirkan
apa yang akan terjadi setelahnya??? Tanpa memikirkan dia akan membalas apa??? Tanpa
memikirkan apakah nanti dia akan ‘makin’ ilfeel padaku??? Aku sungguhan tidak
tau, gara-gara ini—kelakuanku sendiri, sekarang isi kepalaku adalah cemas, takut,
enggak berani buka pesan baru. Aku betul-betul menciut seciut kutu di dalam tubuh
kutu.
Dan perutku masih terasa riuh, jantungku masih
berisik, aku sudah lama sekali tidak merasakan perasaan seperti ini, jadi aku
berinisiatif ingin menulisnya panjang-panjang. Apakah aku adalah kupu-kupu di
dalam perut yang terlalu-jujur-dan-sok-berani atau apakah aku masih yan pi
lembek yang belum dijemur? Sejujurnya, beberapa kali aku ingin menyampaikan
perasaan yang tidak aku ketahui sendiri ini pada dia. Agar aku tahu aku ini
lembek atau berani, dan ternyata aku masih selembek ini.
Aku tidak tahu apakah tadi aku hanya ingin tahu dia
memasak bubur itu sendiri atau apakah aku hanya ingin tahu berapa harga bubur
ayam instan di Jerman. Atau, apakah aku hanya ingin ngobrol dengannya, sebentar,
walau tidak bersuara, walau hanya sekadar membicarakan buburnya enak atau tidak,
walau hanya saling bertukar emoji.
Terkadang aku bertanya-tanya sebanyak itu dan terkadang
aku diam sebanyak itu. Sampai saat ini yang ada hanyalah heran dan cemas. Pertanyaan
apakah aku benar-benar menginginkannya ataukah aku hanya mencemaskan
diri sendiri selalu bergelantungan di kepala.
.
.
.
Saat ini kupu-kupunya sudah mereda. Kurasa konsernya
sudah selesai. Tapi, si kupu-kupu masih ada.
Komentar
Posting Komentar