Nulis Era

Postingan ini didedikasikan untuk diri sendiri supaya semakin rajin nulis, entah apa pun itu, supaya semakin terbiasa mengolah kata dan merangkai kalimat yang enggak pakai “kata” itu-itu aja. Hari ini setelah menimang-nimang, mengingat, dan merenung, aku memutuskan untuk mulai nulis diary lagi. Diary? Mungkin kalau sekarang lebih sering disebutnya journaling ya, tapi bukan yang se-rapi itu!!! Kita mau nulis yang seadanya saja, sesempatnya, seserunya, sebebas-bebasnya. Trus, satu poin yang akan kutekankan lagi di sini adalah: nulis setiap momen yang hinggap di kepala, memotret momen langka, dan nulislah entah mau di buku (notebook) atau di blog itu terserah! Doain semoga semangatku bisa terpahat terus di dalam dada *asek*

Sesi mengingat-ingat hari ini bikin nervous sekaligus malu sama diri ini (yang menuju umur kepala dua! hah! bye teenage era!) malah semakin malas dan hanya hobi scrolling sosmed … dasar pemalas. Padahal ya, dulu, duluuu sekali mungkin bisa dihitung 10 tahun yang lalu, si kecil Faza (((kecil))), rajin sekali meringkas kejadian di hidupnya sehari-hari.

masih polos

Namun, makin nambah umur entah kenapa justru semakin jarang menulis. Tadinya setiap hari, kemudian dua hari sekali, lalu seminggu sekali, lalu sebulan sekali, parahnya pernah sampai setahun sekali dan sekarang??? Menulis seingatnya saja!!! Aduh hahahaha. Tapi satu sisi kubersyukur sedang belajar di program studi sejarah yang sehari-harinya wajib baca buku, diskusi, dan menulis! Konon katanya, jadi mahasiswa Ilmu Sejarah itu dianjurkan untuk rajin baca buku dan jalan-jalan. Wah, “jalan-jalan” inilah yang belum kurealisasikan. Mungkin nanti aku akan bikin jadwal jalan-jalan yang beneran jalan-jalan, alias bukan cuma jajan, di setiap bulan. Semoga bisa ya, InsyaAllah mau keluar dari zona nyamanku yang hanya berkutat di dalam rumah …. wkwk

Kalau 10 tahun yang lalu aku bisa menulis setiap hari, versi mini note dan sangat-sangat ringkas, di tahun-tahun berikutnya aku bisa melihat bahwa perkembangan tulisanku jadi makin berisi. Cerita melalui diary-nya enggak cuma 5-20 kata, tapi bisa sampai puluhan/berlembar-lembar :D Entah dari manakah kebiasaan menulis diary-ku ini dimulai, tapi rasanya aku paham karena diriku dulu pendiam….jadi ceritanya lewat tulisan saja, semacam simulasi punya sahabat yang ghaib lol. Dan enggak hanya tulisan, kadang-kadang juga gambar kalau bingung mau menulis apa hahahaha.

versi curhat melalui gambar

^_^

Perjalanan kisah diary ini berlanjut di SMP dengan diperdanai oleh buku diary yang ada gemboknya (wow tapi sekarang gemboknya ilang …), buku itu adalah hadiah dari teman-teman kelas 7 SMP-ku yang superrr baik dan cerewet :DDD Trus kumelihat di buku diary SMP ini, isinya semakin sedikit dan aku hanya menulis hal-hal yang sangat emosional. Contoh: marahan sama temen, suudzon ke temen (yaampun), bahkan menulis gosip-gosip di sekolahan (agresif deh! wkwkwk).

diary bergembok

Sedangkan diary SMA aku sudah beralih menulis di blog dan kalender. Iya. Kalender. Soalnya aku merasa waktuku benar-benar sempit buat menulis di tahun-tahun SMA. Rasanya mau menulis panjang-panjang sudah susah, jadi supaya momennya tetap kuingat dan ingin kuingat, kutulislah di kalender handphone sesempatnya. Satu sisi seru, satu sisi was-was kalau teman ada yang pinjam HP :’) 

Loh, tulisannya jadi ke mana-mana deh … semoga yang membaca paham ya, ini semacam prolog untuk pengingat mengapa aku mau mulai nulis diary/journal lagi. *pasang sabuk pengaman* Bismillah bisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken