Ulasan di Awal April, dari Calon Agen Neptunus
![]() |
| Sumber: mandarnesia.com |
Pagi ini saya selesai membaca novel karya Ibu Suri, Dee Lestari, judulnya Perahu Kertas. Emang sebetulnya saya merasa pantas diolok-olok kok baru baca Perahu Kertas sekarang, 2021, jauh sekali rasanya sama novel yang sudah beranjak tua ini. Ah, tapi buku tidak punya umur.
Nah, saya hanya ingin menyampaikan uneg-uneg sekaligus kehisterisan saya melalui ulasan ini---dan sebetulnya saya gak pernah tau selama ini saya menulis ulasan buku dengan benar atau tidak, karena hampir 80% isinya selalu spoiler hahahahahaha.
Sekarang saya bingung harus menulis dari mana. Baiklah. Pertama-tama, haduh dasar ya kalian, Kugy and Keenan! Tiga hari saya selesai baca kisah ini dengan hati yang mencak-mencak karena perasaan saya selalu dibuat campur aduk, tumpah, berantakan, mungkin mirip-mirip dengan pakaian yang Kugy pakai waktu pertama kali ketemu Keenan! Kugy sang penulis dan Keenan sang pelukis. Kombinasi seni yang pas. Kedua, saya merasa memiliki banyak kemiripan dengan Kugy, yah walaupun saya akui dia memang lebih aneh dari saya. Dan saya jadi ingin daftar menjadi agen Neptunus. Dan juga ingin bangun Alien Nation seperti yang dikatakan Noni. Saya juga tergugah dengan kegigihan mimpi Kugy, penulis dongeng, saya jadi tidak takut berhenti bermimpi. Setidaknya selama semangat dan keinginan saya tidak padam. Begitupun dengan mimpi Keenan, yang rumit dan berliku, harus terjal jalannya agar ia bisa sampai pada mimpi itu sendiri. Atau, mimpi itu memang datang kepadanya. Ketiga, alur cerita dalam buku ini mengasyikkan, tidak perlu berat-berat, mudah dimengerti. Dari pertemuan Kugy dan Keenan, Keenan yang saat itu sepertinya langsung klop dengan geng midnight, dan klop dengan Kugy juga. Celetukan-celetukan anak muda yang bikin ketawa, awal yang ringan dan happy, sekaligus kaget karena ternyata Kugy punya pacar yang populer. Sampai sebuah bab tiba dan ini memulai kerumitan semua bab di selanjutnya. Wanda, seorang perempuan cakep, kaya, pintar, dan bisa diandalkan---lumayan bisa. Dia datang di kehidupan midnight geng dan hebatnya langsung naksir Keenan, dengan bantuan comblangan Noni dan Eko. Saat itulah, perasaan Kugy dibuat cemas, dia yang penuh keraguan, terbata-bata menghadapi perasaannya sendiri yang sejujurnya ia tidak ingin mengakui itu karena dia masih punya Ojos dan masih dimiliki Ojos (a.k.a Joshua).
Bab terus berlanjut, disesaki dan dipenuhi oleh perasaan Kugy dan Keenan yang saling terpendam, terpendam begitu dalam dan jauh. Hingga begitu menyesakkan. Saya tidak mengerti apakah Kugy dan Keenan hidup dengan kepura-puraan perasaan saat mereka bersama Remi atau pun Luhde, saya tidak mengerti mereka menambatkan perasaan yang hilang arah itu dengan tulus atau untuk pelarian. Saya tidak pandai menerka-nerka perasaan, tetapi Kugy dan Keenan memiliki perasaan yang jelas, yang terlambat diakui, atau memang sebetulnya tidak terlambat. Mereka hanya memerlukan waktu. Saya mengakui satu hal setelah novel ini selesai saya baca, perasaan yang sudah ketemu jodohnya, memang selalu dipertemukan di mana saja. Di mana saja. Mau berlari sampai mana pun, mau kabur atau melarikan diri bertahun-tahun, selalu bertemu, tidak ada ujungnya. Saya memahami perasaan mereka yang mereka tolak sendiri. Seperti, “seharusnya saya tidak menyukainya” atau “seharusnya saya tidak memiliki perasaan ini”. Itu menyakitkan. Padahal hati mereka tahu semuanya tidak harus dipaksakan. Perasaan. Perasaan tidak bisa dipaksakan.
Sesak perasaan juga saya rasakan pada karakter Luhde. Dia perempuan Bali yang lugu, penuh pengertian, kehalusan, cerdas, perasaan yang dimilikinya tajam. Sejujurnya dia seperti malaikat yang jatuh dari langit, setiap kali Luhde muncul di dalam cerita, saya merasakan kalau dia memiliki ketenangan yang benar-benar luas. Seperti langit. Ya, langit. Dan sejujurnya lagi, saya tidak tega dengan kenyataan pelik yang harus dihadapinya, ketika melepaskan orang yang dicintainya pergi. Saya tidak tau pasti, di sisi lain Luhde penuh misteri.
Hehehe saya bingung mau menjelaskan sampai mana. Tapi novel ini adalah definisi hangat. Noni, Eko, Ojos, Wanda, Bimo, Luhde, Remi, The K Family, semuanya, lengkap jadi satu. Rasanya seperti mengenal mereka secara langsung. Dan tergelak-gelak saat ada lelucon. Seru dan ngakak. Terima kasih Ibu Suri, sudah menulis cerita ini. Terima kasih Kugy dan Keenan, untuk segalanya.
Ya, mereka hanyalah Kugy, penulis cerita dongeng Jenderal Pilik dan Pasukan Alit, Mother Alien, si Kecil, penggemar makanan. Mereka hanyalah Keenan, pelukis melankolis, pangeran negeri dongeng, sang Siluman Kampus. Mereka hanyalah agen Neptunus yang ditugaskan bermimpi tinggi dan saling mencari. Mereka hanyalah pelanggan warteg Pemadam Kelaparan. Mereka memiliki kisah penuh debaran, seperti ombak, lagu alam yang paling merdu.
Saya jadi teringat dengan sebuah puisi, yang saya dapat dari LINE tahun 2018 lalu.
Seniman dan perangkai kata
Aku paham kamu seniman.
selalu mencari ruang untuk menciptakan sebuah karya dan lukisan, bahkan kesedihanmu pun tak kau hiraukan.
—aku suka menulis, namun disebut penulis pun kiranya belum begitu pantas. Aku di sini hanya suka merangkai kata, berteman dengan berjuta kisah.
Bagaimana kalau kita bekerja sama? kamu melukisku, sedang aku sibuk merangkai kata untukmu —untuk kita.
#senimankata
-tdpadi
Mungkin Kugy dan Keenan cocok dengan puisi ini.
-Tertanda, saya yang sedang lapar dan butuh Pemadam Kelaparan.

Komentar
Posting Komentar