Kau, Aku, dan Ulasan Sederhana

Sumber: Gramedia


Bagaimana caranya menyampaikan sebuah kisah sederhana, tidak ada yang menonjol di dalamnya, penuh kesungguhan, misterius, dan tidak pernah terpikirkan? Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Tere Liye selalu berhasil membuat saya terpukau dengan karyanya. Novel yang akhirnya selesai saya baca, yang sebelumnya saya ragu-ragu waktu meminjamnya di perpustakaan sekolah---ya, pada akhirnya saya tetap meminjamnya. Saya merasa menyesal, lagi-lagi selalu seperti ini karena saya selalu “terlambat” membaca sebuah buku. Saya meminjam novel ini dari perpustakaan sekolah saat duduk di kelas 11 SMA. Namun, bukannya segera dihabiskan halamannya, saya malah lupa membaca novel ini dan hanya sempat membaca dua halaman saja. Setelah dua minggu, saya sampai kena denda karena lama mengembalikan novelnya hahahaha. Padahal saya selalu membawa novel ini di manapun, saya meletakkannya di tas, tapi entah kenapa tidak sempat-sempat juga punya waktu untuk membaca.

Alamak, isi bukunya jauh dari bayangan saya. Walau dari judulnya, saya tahu kalau ini novel romansa. Ah, tapi siapa yang mau mengelak kalau semua novel urusan romansa Tere Liye selalu berbeda dan mengundang penasaran, selalu sukses di kalangan pembacanya. Saya kira buku ini berisi tentang romansa yang begitu dekat dengan angpau merah. Tapi memang isinya dekat dengan angpau merah sih, hanya, saya tidak membayangkan kalau isinya adalah seorang pemuda bernama Borno, yang tinggal di gang sempit tepian Kapuas. Borno yang membuka cerita, pertanyaannya yang langsung membuat saya tergelak karena aneh sekali. Laki-laki yang istimewa dan sederhana. Borno sang tokoh utama, yang bergonta-ganti pekerjaan, menjadi pengemudi sepit, hingga menemukan bakat terpendamnya menjadi montir yang baru diketahuinya belakangan, dan pertemuannya dengan Mei. Mei, pujaan hatinya. Bukan nama bulan seperti Januari, Agustus, September, dan lain-lain. Dia adalah Mei, si sendu menawan, yang mengambil fokus hampir keseluruhan hidup Borno di dalam buku ini.

Menyenangkan sekali selama membaca novel ini, bahkan saya tidak mengira kalau hanya membutuhkan dua hari sampai ke halaman terakhir, di tengah-tengah tugas dan UTS yang melanda hehehe. Selama dua hari itu pun saya merasa dekat dengan Borno. Tahu kebiasaannya, kenal dengan Pak Tua yang bijaksana, kejailannya dengan Andi, mengenal cerewetnya Koh Acong, Cik Tulani, dan kerasnya Bang Togar. Lebih baik kalian coba mulai membaca novel ini. Sesungguhnya tidak perlu pakai rumus yang rumit-rumit karena isinya mengalir begitu saja, seperti sungai Kapuas, tidak perlu ribut menebak, kalian bisa bertemu kalimat-kalimat yang mengundang tawa kecil, dan paling penting … kalimat-kalimat bijak dari Pak Tua. Sederhana saja. Dan, sesungguhnya juga cerita ini dirasa kurang panjang, sedikiiiit saja, sedikit saja rasanya ingin membaca ekspresi Mei yang sekarang sudah tidak sendu lagi, yang kata Borno sudah ceria seperti gadis-gadis di Pontianak, mungkin bahkan lebih ceria dari wajah menyenangkannya Sarah?

Alamak, saya terlalu banyak mengoceh. Saya memberi lima bintang untuk novel ini, mewah macam hotel Tun Badawi itu! :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken