Si Maestro juga Penuh Magis


Ternyata partitur dalam bukumu ajaib, ya. Aku kemarin tidak sengaja membaca, dan isinya betul-betul menyembuhkan hati! Waktu aku sadar kalau karyamu tidak bisa dibiarkan begitu saja, aku buru-buru duduk di depan piano. Aku bukan pianis, tentu saja, tapi aku menunggu magis. Aku hirup dalam-dalam dulu aroma hujan di seberang kaca, aku hirup dalam-dalam dulu kelakar senyummu, aku hirup dalam-dalam dulu aromamu, baru sedetik kemudian jari-jariku menyentuh nadanya. Menguar ke penjuru ruangan. Mengisyaratkan kalau mahakaryamu memang mengundang keindahan. Aku sempat diam dan kembali berpikir, suaramu sungguhan sampai. Suaramu sungguhan menguap dan hinggap pada dinding-dinding rumahku. Seketika aku jadi bingung, aku menghentikan ujung-ujung jariku yang menyentuh partiturmu. Kutundukkan aku pada lantai, kuhantarkan doa melalui nada. Kuhantar sang doa supaya aku tidah jatuh padamu, yang begitu jauh.

Aku hanya mencoba untuk tidak berlangsung gila.

Aku, hanya seperti itu.             

Aku takut pada partiturmu, maestro.

Aku takut kalau aku terus membuka bukumu hingga habis. Aku takut kalau aku diam-diam akan berjinjit menuju notasi lain yang lebih mengundang esensi. Yang itu membuatmu semakin menjadi misteri dan aku yang semakin berkutat pada ambisi.

Aku, hanya seperti itu.

Aku kembali diam, dan sisi lain dariku berimajinasi. Kalaupun kamu semagis itu dan aku setakut itu, lalu aku tenggelam dalam mantramu, kira-kira kamu bakal membawaku kembali ke permukaan tidak, ya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken