AKU DAN MALAM SABTU DI ANTARA HUJAN DAN KEDINGINAN
Sungguh, aku kira aku benar-benar sedang berjalan bersamamu, di bawah hujan, jam sembilan, kita menghabiskan malam.
Dan kamu kedinginan,
dan aku ditemani kesedihan.
Sungguh, aku kira kamu benar-benar sedang memujiku malam itu,
"matamu indah," katamu dalam,
dan aku berusaha tidak tenggelam.
"memang sejak kapan gemuruh nampak indah?" aku menimpali,
kamu menertawai.
Sungguhan, aku mengira kita sedang makan nasi goreng yang pedas dan aku tidak menghabiskan porsiku, dan kamu bilang kalau aku terlalu tersesat dalam rasamu. Lalu aku bingung, karna, sungguhan, malam itu langitnya cantik sekali. Tapi, sungguhan lagi, kita tidak mengikat tangan kita pada bulan yang sedang rimbun.
Karna aku mungkin diikat kesedihan,
dan kamu justru kedinginan.
Dan kita beranjak menuju persimpangan jalan di alun-alun kota. Dan aku berhenti, dan kamu berhenti. Karna, kita pilih lorong yang berbeda. Dan kita tidak saling melambai, karna, sungguhan, aku bangun dan di depan mataku hanya langit-langit kamar dan aku tertawa nanar.
-
Aduh, cuma lelucon malam Sabtu.
:)

Komentar
Posting Komentar