Kalut

aku pandai menulis tentang cakrawala yang pura-pura senyum untuk bumi. tentang purnama yang kugunakan terlalu banyak di dalam puisiku, yang kugunakan, berdalih, menjerat kaki-kakiku sendiri, mencabik daging di dalam setiap jemariku, berdalih, untuk membuatku bisa mati berkali-kali. tentang bunga-bunga tidurku di malam sabtu yang selalu melintang dalam kegelapan dan kedinginan dan aku akan bangun tiba-tiba di depan pusara ibu. yang aku tak lagi takut dengan mati, yang akan terus kusebut di bilik diri. dan aku harap, aku mimpi, aku mati, jangan, mimpi, tapi betulan mati.
aku pandai menulis tentang dongeng ibu peri di dalam sinema putih-abu abu yang berakhir tragis, tamat, ibu perinya tak selamat. aku terlalu gelap untuk jadi seorang putri manis. jadi kutulis seorang putri yang pura-pura jadi aku, di dalam kastil yang menggigil, dan hangat untuk temu dan kenang seorang pangeran, dan tamat, aku (pura-pura) dan seorang pangeran yang hanya satu itu bahagia. ah, manusia. banyak inginnya. padahal, cuma, mau, padahal, cuma, pura-pura.
aku pandai menulis tentang aku, yang sama-sama tragisnya dengan ibu peri. tentang puan-puan tanpa cuan yang lebih memilih berdarah untuk sepasang lagu-lagu klasik dalam telinga yang memekakkan. tentang musik di musim sendu yang menghujam. spektrum paling ambigu. yang lebih memilih dan memang aku memilih. cuma ingin. tidur dengan musik penuh piano dan aku akan teriak dan terisak terus-terusan. dan aku akan tanya pada tuhan. kenapa ya, jagat rayanya semakin kaya kelamnya. mungkin aku buta warna. atau aku mati rasa. atau aku menghirup hujan yang menguar pada jendela yang berabad-abad ada pada lembab. dan aku mencoba menulis semua yang ada di otakku, tidak di hatiku. sampai ribuan lembar. jutaan. dan lalu aku akan berhenti. saat aku lelah dan mulai pasrah. karena sakitku tak kunjung sembuh. haha. dan aku akan minta pada tuhan. untuk menjemputku. dan aku akan berdiri di depan malaikat maut yang akan membuatku kalut, bukan takut. sampai aku jalan-jalan dan berujung ringkih di sebuah jembatan. akhirnya sampai, sampai manakah aku akan tidur abadi.
nanti aku disana akan menulis, dan langit akan tertawa melihatku, mungkin, atau memberi restu, mungkin. waktu angkasa dan bumi tak bisa lagi saling-saling dalam saling mereka yang paling-paling.
nanti di sana aku akan menulis, kalau aku manusia setengah gila yang membisu-biru-pilu dan kalau aku tak pernah utuh jadi satu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken