Telepon Genggam

"Halo, selamat malam."


Aku menggenggam gawai di tangan kanan, sedang tangan kiriku sibuk meremas ujung baju. Tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Hei, dengar dulu. Aku punya cerita hari ini."


Gawaiku bergeming. Tidak ada suara yang membalas dari sana. Ah, tapi masa bodoh! Pokoknya dia harus mendengar ceritaku.


"Tadi malam aku mimpi kamu"


Aku diam sejenak. Berharap ada suara yang menyahut. Berharap dia tertarik mendengar ceritaku.


"Aku lupa kamu bilang apa di mimpi itu. Tapi, yang pasti kamu datang membawa sebuah kotak buatku."


Ceritaku dibalas oleh gerimis di luar rumah. Yang sedang asik menari bersama angin. Yang membuat jendela kamarku berderit berulang kali.


"Terus kamu senyum manis sekali. Ke arahku, iya, sambil menatap wajahku lekat-lekat. Kamu tidak pernah senyum semanis itu, kan? Padaku? Apalagi menatapku? Jadi---aku senang sekali."


Ceritaku dibalas oleh gerimis di luar rumah. Yang melahirkan hujan deras. Yang membuat tangan kiriku semakin erat meremas ujung baju.


"Terus kamu duduk di depanku, membuka kotak itu. Dan ternyata ada dua kotak lagi didalamnya. Yang satu warna biru satunya lagi warna kuning.

Di mimpi itu aku buka kotak yang warna kuning,"


Gawaiku tetap bergeming. Tidak ada balasan.


Aku merebahkan diri ke sofa. Kemudian mengangkat kedua kakiku. Dan mendekap erat mereka. Dan aku menunduk. Dan berkata, "kamu tahu isinya apa?"


Aku masih berharap mendapat balasan.


"Kosong.

Kemudian kotak yang biru kamu buka. Kosong juga.

Kemudian kamu menghilang. Kemudian aku terbangun."


Gawaiku tetap bergeming. Ceritaku dibalas oleh tangisanku. Yang tidak kenal waktu.


"Kamu tahu? Dari mimpi itu aku sadar. Sejak dulu, aku hanya berharap padamu. Padahal aku tahu, kamu tidak akan memberiku apapun---"


Gawaiku tetap bergeming. Ceritaku dibalas oleh sinar matahari yang remang-remang memasuki kamarku. Yang pelan-pelan mengusir hujan deras.


"---padahal aku tahu, kamu tidak akan membalas apapun."


Masih tidak ada jawaban.


Tidak ada nomor panggilan yang kutuju.


Aku hanya sedang berilusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

waktu kita masih seumur anak bulan purnama

Seperempat Gigi Palsu = Seperempat Nenek-nenek

Barbie: Barbie is everything, Ken just Ken