Aku-kamu-kita?
Pertemuan kita adalah sebuah bencana.
Aku bukanlah perempuan
yang mudah jatuh cinta. Dan bila hari itu aku tidak bertemu denganmu, mungkin,
selama genap 16 tahun ini aku tidak akan pernah merasakan jatuh cinta.
Apa aku harus berterimakasih?
Apa aku harus menemuimu sekarang juga?
Ah, aku lupa.
Kita ini kan, bukan
apa-apa. Kita ini tak terikat oleh apa-apa. Aku dan kamu bukan siapa-siapa.
Bahkan kata ‘kita’ disini agak kurang tepat untuk aku dan kamu. Kita ini bukan
Romeo-Juliet. Kita ini dua manusia yang berperasaan buruk.
Ah, salah.
Aku yang buruk. Kamu tentu
tidak.
***
Pertemuanku denganmu
adalah bencana.
Di lorong sekolah kala itu
kita bertemu. Aku menatapmu, lalu kau pun menatapku. Kita. Menatap dan saling
selidik.
Anehnya, tujuh detik aku
menatapmu terasa lama.
Namun aku suka.
Aku baru pertama kali
melihatmu. Aku baru pertama kali menatapmu. Aku tidak tahu namamu. Aku tidak
tahu dimana kelasmu. Aku tidak paham mengapa aku baru menemui sosokmu sekarang?
Kemana kau kemarin-kemarin? Atau, kemana aku kemarin-kemarin?
Namun aku suka.
Aku akan lebih suka
mentapmu berjam-jam, daripada t u j u h d e t i k saja.
Jadi, apa mungkin aku jatuh cinta?
Jadi, apa mungkin aku jatuh cinta?
Kacamatamu, kacamatamu.
Mungkin aku jatuh cinta pada kacamatamu?
Tidak. Jelas sudah walau
kau tak punya kacamata, aku jatuh pada sosokmu. Seluruhnya.
...
Ini bencana. Ini buruk.
Sebab pada hari-hari
berpapasan denganmu, jantungku malah menari-nari, mataku mencuri pandang satu
dua kali, pipiku bersemu merah, namun bibirku diam. Tentu. Tak mungkin berani
menyapa. Memang aku tahu namamu?
Sebab pada hari-hari
tanpamu, lorong itu dingin, aku abu-abu, dan netraku sayu.
Ini pedih.
Sebab aku bukan
siapa-siapa. Dan kamu lebih dari apa-apa (bagiku).
Ini rumit.
Sebab perasaanku campur
aduk. Lebih buruk dari mangga busuk.
Sebab aku perlu tahu
namamu. Bila sudah diberi tahu namamu, mungkin jantungku akan bernapas lega.
Tidak lagi menderu tergesa-gesa.
***
Pertemuanmu denganku, bencana atau bukan?

Komentar
Posting Komentar